{"id":93,"date":"2025-06-20T14:11:10","date_gmt":"2025-06-20T14:11:10","guid":{"rendered":"https:\/\/smamuhajirin.sch.id\/?p=93"},"modified":"2025-06-20T14:11:10","modified_gmt":"2025-06-20T14:11:10","slug":"kh-r-marpu-muhidin-ilyas-liburan-adalah-ujian-taufiq-dan-latihan-menjaga-relasi-dengan-guru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/smamuhajirin.sch.id\/index.php\/2025\/06\/20\/kh-r-marpu-muhidin-ilyas-liburan-adalah-ujian-taufiq-dan-latihan-menjaga-relasi-dengan-guru\/","title":{"rendered":"KH. R. Marpu Muhidin Ilyas: Liburan adalah Ujian Taufiq dan Latihan Menjaga Relasi dengan Guru"},"content":{"rendered":"<p>Purwakarta \u2013 Dalam suasana khidmat acara Lailatul Muwaada\u2019ah dan Pembagian Raport Durusul Lail Semester Genap tahun ajaran 2024\/2025, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, KH. R. Marpu Muhidin Ilyas, MA menyampaikan amanat penting kepada seluruh santri menjelang liburan.<\/p>\n<p>Dalam nasihatnya, beliau menekankan bahwa masa liburan bukanlah waktu untuk bermalas-malasan, melainkan saat yang tepat untuk membuktikan hasil pendidikan selama di pondok. \u201cNilai sesungguhnya bukan hanya terlihat dari raport, tapi dari perilaku kalian di rumah. Ketika di pondok kalian bisa shalat, ngaji, berjamaah, baca Al-Qur\u2019an, itu semua karena Taufiq dari Allah,\u201d ujar beliau.<\/p>\n<p>Beliau menambahkan, bahwa kegagalan dalam bermaksiat juga merupakan bentuk Taufiq. \u201cIngin bolos tapi tidak jadi, mau kabur tapi batal \u2013 itu juga Taufiq dari Allah. Maka jangan sampai ketika pulang ke rumah, justru kualitas kalian lebih jelek dari saat di pondok.\u201d<\/p>\n<p>Lebih lanjut, KH. Marpu menekankan identitas hakiki santri melalui empat level: Tholib (pencari ilmu), Murid (orang yang memiliki kehendak), Tilmid (yang merendahkan diri di hadapan guru), dan Muta\u2019alim (yang terus belajar). \u201cNamun yang paling tinggi adalah menjadi Shohib, yakni yang selalu bersama guru dan berada di hatinya,\u201d ungkap beliau.<\/p>\n<p>\u201cTujuan akhir dari kesantrian adalah keterhubungan dengan guru (ittish\u00e2l). Tidak akan sampai kepada Allah tanpa melalui Rasul, dan tidak mungkin sampai kepada Rasul tanpa perantara guru,\u201d pesan beliau menegaskan pentingnya adab dan relasi spiritual dengan guru.<\/p>\n<p>Di akhir amanatnya, beliau berpesan agar liburan ini dijadikan sebagai ajang latihan menjaga hubungan batin dengan guru. \u201cKalau kalian menjaga hubungan itu, insya Allah, Allah akan menjaga kalian dimanapun berada,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p>Acara ini menjadi momen reflektif sekaligus motivatif bagi seluruh santri agar tetap istiqamah dalam belajar dan menjaga nilai-nilai pesantren sel<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Purwakarta \u2013 Dalam suasana khidmat acara Lailatul Muwaada\u2019ah dan Pembagian Raport Durusul Lail Semester Genap tahun ajaran 2024\/2025, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, KH. R. Marpu Muhidin Ilyas, MA menyampaikan amanat penting kepada seluruh santri menjelang liburan. Dalam nasihatnya, beliau menekankan bahwa masa liburan bukanlah waktu untuk bermalas-malasan, melainkan saat yang tepat untuk membuktikan hasil pendidikan selama di pondok. \u201cNilai sesungguhnya bukan hanya terlihat dari raport, tapi dari perilaku kalian di rumah. Ketika di pondok kalian bisa shalat, ngaji, berjamaah, baca Al-Qur\u2019an, itu semua karena Taufiq dari Allah,\u201d ujar beliau. Beliau menambahkan, bahwa kegagalan dalam bermaksiat juga merupakan bentuk Taufiq. \u201cIngin bolos tapi tidak jadi, mau kabur tapi batal \u2013 itu juga Taufiq dari Allah. Maka jangan sampai ketika pulang ke rumah, justru kualitas kalian lebih jelek dari saat di pondok.\u201d Lebih lanjut, KH. Marpu menekankan identitas hakiki santri melalui empat level: Tholib (pencari ilmu), Murid (orang yang memiliki kehendak), Tilmid (yang merendahkan diri di hadapan guru), dan Muta\u2019alim (yang terus belajar). \u201cNamun yang paling tinggi adalah menjadi Shohib, yakni yang selalu bersama guru dan berada di hatinya,\u201d ungkap beliau. \u201cTujuan akhir dari kesantrian adalah keterhubungan dengan guru (ittish\u00e2l). Tidak akan sampai kepada Allah tanpa melalui Rasul, dan tidak mungkin sampai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":94,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-93","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tak-berkategori"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/smamuhajirin.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/93","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/smamuhajirin.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/smamuhajirin.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smamuhajirin.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smamuhajirin.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=93"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/smamuhajirin.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/93\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":95,"href":"https:\/\/smamuhajirin.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/93\/revisions\/95"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smamuhajirin.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/94"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/smamuhajirin.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=93"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/smamuhajirin.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=93"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/smamuhajirin.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=93"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}